NICU PICU
|
24 Agustus 2025

Apa itu PICU? Ruangan Perawatan Intensif Anak

By ER Indonesia

Apa yang Dimaksud dengan PICU?

Pediatric Intensive Care Unit atau disingkat PICU adalah ruangan perawatan intensif yang digunakan khusus untuk merawat pasien anak yang mengalami gangguan kesehatan dan komplikasi yang serius.

Di dalam ruangan PICU, pasien akan dirawat dan diawasi oleh tim kesehatan yang terlatih, peralatan medis dan obat-obatan yang lengkap.

Ruangan PICU untuk Pasien Apa?

Ruangan PICU dikhususkan untuk anak yang berusia dari 28 hari hingga 18 tahun dengan kondisi kesehatan tertentu. Sedangkan untuk bayi yang berumur dibawah 28 hari akan ditempatkan pada ruangan NICU.

Fasilitas dan Peralatan Medis Standar Ruangan PICU

Anak yang dirawat di ruangan PICU membutuhkan perawatan yang intensif. Oleh karenanya ruangan PICU perlu dilengkapi dengan peralatan medis yang sesuai standar, seperti alat berikut:

1. Monitor Tanda Vital

Anak yang dirawat di ruangan PICU membutuhkan perawatan dan pengawasan secara teliti dan intensif. Oleh karenanya, diperlukan alat monitor untuk menampilkan berbagai tanda-tanda vital.

Berikut beberapa tanda vital yang dibutuhkan pada ruangan PICU:

  • Kadar oksigen pada darah (saturasi)
  • Denyut jantung yang diukur dengan elektrodiagram
  • Tekanan darah
  • Suhu tubuh
  • Laju pernapasan

2. Infus Intravena (IV)

Selang infus intravena berfungsi sebagai saluran yang digunakan untuk memasukkan cairan, obat, hingga darah ke dalam pembuluh vena menggunakan jarum kecil.

Pada umumnya, infus akan dipasang pada tangan. Namun pada beberapa kondisi, infus juga bisa dipasang pada kaki.

3. Kateter Vena Sentral

Untuk anak yang dalam kondisi kritis, kemungkinan kateter vena sentral akan dipasang. Alat ini mirip dengan infus intravena, namun alat ini dipasangkan di vena cava (pembuluh darah balik jantung) yang berada di bagian leher.

Alat ini tidak hanya berfungsi untuk memasukkan cairan atau obat ke dalam tubuh, namun juga bisa digunakan untuk memonitor kadar oksigen, tekanan darah, kestabilan aliran darah di dalam pembuluh darah.

4. Alat Bantu Napas

Alat bantu napas terdiri dari masker oksigen dan ventilator. Bagi anak yang masih bisa bernapas sendiri, maka masker oksigen akan dipasang di hidung dan wajah dan dihubungkan ke tabung oksigen.

Sedangkan bagi anak yang tidak bisa bernapas sendiri karena mengalami gangguan pernapasan berat atau koma, maka ventilator akan digunakan dengan memasukkan selang ke saluran pernapasan melalui hidung atau mulut.

5. Alat Pacu Jantung (Defibrillator) Khusus Anak

Alat pacu jantung khusus anak adalah alat yang digunakan untuk memicu kerja jantung ketika jantung berhenti berdetak atau berdetak dengan irama yang tidak beraturan.

Alasan Kenapa Anak Bisa Masuk Ruangan PICU

Alasan Kenapa Anak Bisa Masuk Ruangan PICU

Jika kondisi kesehatan anak tidak memungkinkan untuk dirawat di ruang perawatan biasa, maka anak perlu dirawat di ruangan PICU.

Berikut beberapa kondisi umum yang bisa menyebabkan anak harus dirawat di ruangan PICU:

  • Gangguan pernapasan serius
  • Infeksi bakteri atau virus berbahaya yang berat
  • Cacat bawaan lahir seperti kelainan jantung bawaan yang berat
  • Gangguan metabolik pada tubuh, seperti keseimbangan asam basa darah yang terganggu dan gangguan elektrolit
  • Cedera berat akibat kecelakaan, seperti pendarahan dan luka bakar yang serius
  • Kerusakan organ tubuh yang penting, seperti ginjal, hati, otak dan jantung
  • Keracunan zat kimia atau obat-obatan
  • Pasca operasi yang berat.

Berikut beberapa penyakit yang bisa menyebabkan anak harus dirawat di ruangan PICU:

1. Asma Berat

Asma adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada paru-paru karena adanya peradangan dan penyempitan saluran pernapasan yang menyebabkan kesulitan bernapas.

Penyebab dari penyakit ini masih belum bisa dipastikan, namun ada pengaruh dari faktor genetik dan lingkungan. Berikut beberapa hal yang dapat memicu terjadinya asma:

  • Benda pemicu alergi seperti debu, serbuk bunga, ataupun bulu hewan
  • Udara yang kotor seperti asap rokok dan polusi
  • Kondisi emosi yang berlebihan
  • Beraktivitas yang terlalu berat secara fisik
  • Infeksi saluran pernapasan
  • Penyakit asam lambung
  • Kondisi lingkungan seperti perubahan suhu yang drastis atau udara yang lembab
  • Mengonsumsi obat obatan tertentu

Gejala umum dari penyakit ini adalah sesak napas. batuk, dan mengi. Namun, jika asma semakin memburuk, maka berikut gejala yang akan ditunjukkan:

  • Badan lemas tidak bertenaga
  • Otot leher menjadi tegang
  • Muncul kantung mata yang berwarna gelap
  • Berdehem karena tenggorokan tidak nyaman
  • Angka peak flow meter semakin menurun

2. Pneumonia atau Paru-Paru Basah

Pneumonia atau sering disebut paru-paru basah merupakan penyakit pada paru-paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, ataupun virus sehingga mengakibatkan paru-paru meradang. Radang ini mengakibatkan kantong udara atau alveolus dipenuhi cairan.

Ada beberapa hal yang memicu munculnya pneumonia pada anak, yaitu:

  • Anak lahir secara prematur
  • Tidak mendapatkan vaksin pneumonia
  • Kekurangan gizi
  • Tidak menerima asupan Air Susu Ibu (ASI)
  • Lingkungan penuh asap rokok.

Anak yang mengalami pneumonia menunjukkan gejala berikut:

  • Demam
  • Tenggorokan sakit
  • Mengi
  • Batuk
  • Pilek
  • Mual
  • Diare
  • Tidak nafsu makan
  • Sering menangis dan lemas

3. Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)

Acute Respiratory Distress Syndrome atau ARDS adalah gangguan pernapasan akut yang dikarenakan adanya cairan di alveoli pada paru-paru. ARDS merupakan penyakit berbahaya yang perlu segera ditangani.

Penyebab dari ARDS adalah rusaknya lapisan pelindung pembuluh darah kapiler. Akibatnya cairan dari pembuluh darah kapiler di paru-paru merembes ke alveoli sehingga oksigen tidak bisa masuk ke alveoli dan darah kekurangan kadar oksigen.

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan ARDS adalah:

  • Tenggelam dalam air
  • Tersedak
  • Menghirup zat berbahaya
  • Transfusi darah yang berlebihan
  • Luka bakar
  • Mengalami cedera di bagian kepala atau dada
  • Infeksi saluran napas yang berat

Gejala yang terjadi jika anak mengalami ARDS adalah:

  • Napas sesak, pendek, dan cepat
  • Sakit kepala
  • Tekanan darah rendah
  • Kesadaran melemah
  • Bibir dan kuku membiru
  • Demam
  • Berkeringat dingin
  • Batuk
  • Badan lemas

4. Meningitis

Meningitis adalah penyakit radang pada lapisan selaput otak dan saraf tulang belakang (meningen). Penyebab utama meningitis adalah infeksi bakteri dan virus. Penyakit ini mudah menular melalui sentuhan, batuk, maupun bersin.

Gejala yang ditunjukkan oleh penderita meningitis adalah:

  • Demam
  • Sakit kepala parah
  • Leher terasa kaku
  • Muncul ruam
  • Berkurangnya nafsu makan
  • Kejang-kejang
  • Mual
  • Rasa kantuk berat
  • Kesadaran menurun.

5. Sepsis

Sepsis merupakan kondisi dimana sistem kekebalan tubuh melawan infeksi bakteri, jamur, maupun virus secara berlebihan. Saat melawan infeksi, tubuh memproduksi senyawa kimia. Namun jika jumlahnya berlebihan, maka senyawa kimia ini akan membahayakan tubuh dan merusak organ tubuh.

Semua jenis infeksi dapat menyebabkan sepsis, seperti:

  • Pneumonia
  • Infeksi pada ginjal
  • Infeksi saluran kemih
  • Peritonitis dan kolesistitis (infeksi saluran pencernaan)
  • Meningitis dan ensefalitis (infeksi pada otak dan sumsum tulang belakang)
  • Bakteremia (infeksi aliran darah)
  • Selulitis (infeksi pada kulit)

Gejala yang ditimbulkan sepsis adalah:

  • Suhu tubuh tidak normal, yaitu di atas 38ºC atau dibawah 36ºC
  • Sulit bernapas
  • Ubun-ubun bayi membengkak
  • Mual
  • Badan lemas dan lesu
  • Merasa gelisah
  • Linglung
  • Tidak bernafsu makan
  • Muncul ruam
  • Volume urin menurun
  • Kulit pucat atau membiru
  • Penurunan kesadaran.

6. Dehidrasi Berat

Dehidrasi adalah kondisi dimana kadar cairan tubuh sedikit karena cairan yang keluar lebih banyak daripada yang masuk ke tubuh. Air sangatlah penting untuk mendukung fungsi tubuh, sehingga kekurangan air dapat memberikan akibat yang berbahaya.

Berikut beberapa penyebab yang bisa menyebabkan dehidrasi jika terjadi secara berlebihan:

  • Muntah
  • Diare berat

Pada anak, dehidrasi sering disebabkan oleh diare. Karena tubuh anak yang masih kecil, penurunan kadar air dalam tubuh yang sedikit saja sudah bisa mengakibatkan dehidrasi.

Gejala dari dehidrasi berat adalah:

  • Napas lebih cepat
  • Detak jantung tidak beraturan
  • Tekanan darah menurun
  • Kulit mengering
  • Sakit kepala
  • Mengantuk berat
  • Urin berwarna gelap
  • Kesadaran menurun bahkan hingga pingsan
  • Kejang-kejang

7. Epilepsi atau Ayan yang Tidak Berhenti dengan Obat-obatan

Epilepsi atau Ayan adalah gangguan yang terjadi pada aktivitas sel saraf otak karena adanya aktivitas listrik yang berlebihan di otak sehingga mengakibatkan kejang secara berulang.

Penyebab pasti epilepsi masih belum diketahui sepenuhnya. Namun ada beberapa kondisi yang mungkin dapat menyebabkan epilepsi, yaitu:

  • Memiliki riwayat keluarga yang mengidap epilepsi
  • Mengalami cedera pada kepala karena kecelakaan atau benturan
  • Kondisi otak yang rusak akibat stroke atau tumor
  • Kelainan otak sejak lahir karena mengalami kekurangan oksigen saat persalinan, adanya infeksi pada Ibu, atau kurangnya gizi saat dalam kandungan
  • Terjangkit penyakit menular seperti HIV/AIDS, ensefalitis atau meningitis
  • Memiliki riwayat kejang saat bayi karena demam tinggi
  • Menderita penyakit demensia atau alzheimer.

Gejala yang dialami penderita epilepsi atau ayan adalah mengalami kejang. Ada beberapa jenis kejang yang bisa terjadi, yaitu:

  • Kejang parsial simpel, ditandai dengan penderita tidak kehilangan kesadaran, kejang di bagian tubuh tertentu, kesemutan, pusing, melihat kilatan cahaya dan perubahan emosi yang tiba-tiba
  • Kejang parsial kompleks, yang ditandai dengan kejang pada bagian tubuh tertentu namun disertai dengan kesadaran yang hampir hilang, pandangan kosong, menelan dan mengunyah, serta menggosok-gosokkan tangan.
  • Kejang tonik, yang ditandai dengan tubuh kaku dalam beberapa detik dan otot tubuh berkedut, terutama pada tangan, kaki, dan punggung
  • Kejang atonik, yang ditandai dengan tubuh yang tiba-tiba lemas dan rileks sehingga penderita jatuh
  • Kejang klonik, ditandai dengan kejang atau gerakan ritmis pada otot tangan, wajah, dan leher.
  • Kejang mioklonik, yang ditandai dengan otot yang tiba-tiba berkontraksi. Kejang ini bisa terjadi pada seluruh tubuh atau pada otot tangan saja.
  • Kejang absans, yaitu kejang yang disertai dengan tatapan mata yang kosong dan hilangnya kesadaran.

8. Ketoasidosis Diabetikum

Ketoasidosis Diabetikum adalah komplikasi diabetes melitus yang serius karena produksi keton (asam darah) yang berlebih.

Gangguan ini diawali dengan tubuh kekurangan atau kelainan insulin karena menderita diabetes melitus. Padahal, insulin berfungsi untuk mengubah glukosa menjadi energi.

Karena insulin yang terlalu sedikit atau tidak bekerja dengan normal, maka proses pengolahan glukosa terganggu dan menyebabkan terjadinya penumpukan zat sisa, yaitu keton yang bersifat asam di dalam darah.

Beberapa faktor yang mendorong terjadinya ketoasidosis diabetikum pada penderita diabetes adalah:

  • Tidak menyuntik insulin tepat waktu dan sesuai dosis
  • Mengalami serangan jantung
  • Kecanduan alkohol dan narkoba
  • Dalam kondisi hamil atau menstruasi
  • Mengalami penyakit yang berhubungan dengan infeksi, seperti infeksi saluran kemih
  • Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti obat diuretik atau kortikosteroid

Gejala yang muncul pada penderita ketoasidosis diabetikum adalah:

  • Sering buang air kecil
  • Selalu merasa haus dan tidak hilang setelah minum
  • Napas mengeluarkan bau buah-buahan atau aseton.
  • Tubuh lemas dan lesu
  • Mual dan muntah
  • Sakit kepala dan perut
  • Sesak napas
  • Penurunan kesadaran
  • Mengalami dehidrasi karena buang air kecil terus menerus

9. Anemia yang Berat

Anemia adalah gangguan pada darah, dimana kadar hemoglobin (komponen utama sel darah merah) dibawah normal atau tidak berfungsi dengan baik sehingga organ tubuh kekurangan oksigen.

Indikasi menjalani perawatan di PICU adalah jika anak dengan Hb< 5 g/dL dengan atau tanpa perdarahan dan memerlukan pemantauan dan transfusi darah secepatnya.

Dilansir dari situs Healthline, kadar hemoglobin normal pada anak berdasarkan usianya adalah sebagai berikut:

  • 1 hingga 2 bulan: 10,7 – 17,1 g/dL
  • 2 hingga 3 bulan: 9 – 14,1 g/dL
  • 3 hingga 6 bulan: 9,5 – 14,1 g/dL
  • 6 hingga 12 bulan: 11,3 – 14,1 g/dL
  • 1 hingga 5 tahun: 10,9 – 15 g/dL
  • 5 hingga 11 tahun: 11,9 – 15 g/dL
  • 11 hingga 18 tahun: 12,7 – 17,7 g/dL untuk laki-laki dan 11,9 – 15 g/dL untuk perempuan

Jika kadar hemoglobin anak berada dibawah kadar normal tersebut, maka anak mengalami anemia. Penyebab anemia pada anak antara lain:

  • Kekurangan asupan zat besi, vitamin B12, dan asam folat
  • Mengalami pendarahan
  • Menderita kanker sumsum tulang belakang
  • Mengalami gangguan organ tubuh seperti ginjal dan hati
  • Mengalami hipotiroidisme dan thalassemia

10. Kanker Darah dengan Infeksi Berat

Kanker darah adalah kondisi dimana sel darah berfungsi tidak normal dan menghambat tubuh untuk melawan infeksi. Ada beberapa jenis dari kanker darah, yaitu Limfoma, Leukemia, dan Myeloma.

Penyakit ini disebabkan oleh proses mutasi dari DNA pada sel darah sehingga sel darah merah berfungsi tidak normal dan tidak dapat dikendalikan.

Gejala dari penyakit ini sulit untuk terdeteksi karena hampir sama dengan gejala banyak penyakit lainnya. Berikut beberapa gejalanya:

  • Munculnya bintik-bintik merah pada kulit
  • Mengalami pembengkakan pada kelenjar getah bening pada leher, selangkangan, atau ketiak
  • Sering terjadi infeksi
  • Mudah mengalami memar dan pendarahan, seperti mimisan
  • Merasakan nyeri pada tulang dan sendi
  • Tubuh berkeringat pada malam hari
  • Berat badan menurun drastis
  • Merasa mudah lelah dan lesu
  • Mengalami sesak saat bernapas

Ambulance Service Berstandar PICU

Ambulans NICU PICU Neonatal Transport

Kondisi gawat darurat pada anak bisa terjadi dengan tiba-tiba dan dimana saja. Sayangnya, tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas ruangan PICU yang memadai dan sesuai kebutuhan anak.

Oleh karenanya, dibutuhkan alat transportasi yang berfasilitas lengkap dan siap membawa anak dengan kondisi medis apapun. Dengan begitu, pasien bisa dirawat dengan baik selama proses perpindahan.

Emergency Ambulance Transport ER Indonesia menyediakan ambulans yang memiliki fasilitas peralatan dan obat-obatan lengkap berstandar PICU. Ambulans PICU juga dilengkapi dengan tenaga kesehatan yang sudah berpengalaman dan tersertifikasi.

Tidak hanya mobil ambulans, ER Indonesia juga menyediakan ambulans dalam bentuk helikopter dan pesawat yang juga berstandar PICU tergantung dari kondisi bayi dan jarak yang ditempuh.

Segera hubungi Tim ER Indonesia untuk informasi lebih lanjut mengenai transportasi ambulans PICU / NICU / neonatal atau layanan evakuasi medis lainnya.

Telah ditinjau oleh: dr. Rilie Armeilia, Sp.A
Terakhir diperbarui pada 21 September 2022

Artikel Lainnya