NICU PICU
|
24 Agustus 2025

Dehidrasi pada Bayi. Tanda, Penangangan, dan Pencegahan

By ER Indonesia

Dehidrasi pada bayi adalah kondisi dimana tubuh bayi kekurangan cairan karena jumlah cairan yang masuk tidak sebanding dengan cairan yang keluar.

Bayi memiliki ukuran tubuh yang kecil sehingga cadangan cairan di dalam tubuh hanyalah sedikit. Padahal bayi memiliki laju metabolisme yang tinggi, sehingga membutuhkan banyak cairan. Oleh karenanya bayi sensitif terhadap kekurangan cairan meski hanya sedikit dan membutuhkan asupan cairan yang konsisten.

Dehidrasi pada bayi dapat disembuhkan dengan mudah jika diatasi segera. Namun, jika penanganan dilakukan terlambat, dehidrasi bisa menjadi berat dan mengancam jiwa.

Berikut bahaya dehidrasi pada bayi jika tidak segera ditangani:

  • Bayi mengalami kejang karena tubuh kekurangan cairan elektrolit natrium dan kalium.
  • Terjadinya infeksi saluran kemih, batu ginjal, hingga gagal ginjal.
  • Menurunnya volume cairan di dalam sel tubuh termasuk darah. Hal ini dapat mengakibatkan syok hipovolemik, yaitu kondisi dimana jantung tidak sanggup memompa darah ke seluruh tubuh.
  • Organ tubuh tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Hal ini sangat berbahaya dan bisa berujung pada kematian.

Oleh karenanya, orang tua harus waspada dan memperhatikan anaknya agar dapat segera menangani kondisi ini. Untuk bisa mengecek dehidrasi pada bayi, caranya adalah dengan memperhatikan gejala atau tanda-tandanya.

Gejala / Tanda Dehidrasi pada Bayi

Berikut tanda-tanda yang akan ditunjukan oleh bayi yang mengalami dehidrasi yang masih ringan:

  • Rewel, tidak mau bermain dan cenderung banyak tidur
  • Tidak kuat menyusu
  • Menangis tanpa keluarnya air mata
  • Bibir kering
  • Urin berbau lebih menyengat dan berwarna gelap
  • Jarang buang air kecil, sehingga popok masih kering padahal sudah dipakai cukup lama (lebih dari 6 jam).

Jika Anda menemukan gejala tersebut, segera tangani sebelum dehidrasi menjadi berat. Berikut gejala dehidrasi berat pada bayi:

  • Bayi lemas dan tidak aktif
  • Tubuh memucat
  • Tangan dan kakinya dingin
  • Mata dan ubun-ubun terlihat cekung
  • Mengalami sesak napas
  • Denyut nadi lemah dan cepat (di atas 120 kali per menit).

Kapan Harus ke Rumah Sakit?

Dehidrasi pada bayi harus segera ditangani dengan cepat, terlebih jika bayi masih berusia dibawah 6 bulan. Anda harus segera membawa bayi ke rumah sakit atau ke dokter jika bayi mengalami hal berikut:

  • Bayi menunjukkan gejala dehidrasi berat di atas
  • Popok tidak basah bahkan setelah 8 jam digunakan
  • Terlihat sesak saat bernapas
  • Mengalami diare atau muntah dengan frekuensi tinggi
  • Tubuh mengalami demam hingga suhu 38°C atau lebih

Gejala tersebut menandakan bayi harus segera ditangani oleh dokter. Sesuai kondisinya, bayi bisa dirawat secara intensif di ruangan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) atau Pediatric Intensive Care Unit (PICU) yang memiliki peralatan lengkap jika dibutuhkan.

Segera hubungi ER Indonesia jika Anda membutuhkan evakuasi medis darurat atau panggil ambulance NICU/PICU!

Cara Menangani Dehidrasi pada Bayi

Bayi dehidrasi minum susu

Jika bayi masih menunjukkan gejala dehidrasi ringan, Anda bisa melakukan beberapa upaya untuk mengatasi kondisi ini. Berikut cara mengatasi dehidrasi pada bayi:

  • Atur kondisi suhu ruangan agar bayi tidak kepanasan. Beri bayi pakaian yang tipis jika cuaca sedang panas.
  • Dalam kondisi bayi mengalami demam, keringat berlebih, atau diare, Anda bisa memberi minum lebih banyak dari biasanya.
    Jika usia bayi di atas 3 bulan, Anda bisa memberikan oralit atau cairan elektrolit untuk menggantikan kadar elektrolit tubuh.
  • Dalam kondisi bayi mengalami muntah-muntah, berikan minum dengan jumlah sedikit namun sering.
  • Dalam kondisi bayi menolak untuk minum, ada kemungkinan bayi merasa sakit pada mulutnya. Untuk kondisi ini, Anda bisa memberinya paracetamol.

Penyebab Dehidrasi pada Bayi

Dehidrasi dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini:

  • Diare atau muntah. Kedua hal ini membuat cairan keluar dari tubuh dengan jumlah yang banyak.
  • Demam. Suhu tubuh yang tinggi membuat keringat banyak diproduksi oleh tubuh, sehingga cairan tubuh keluar dalam bentuk keringat.
  • Posisi pelekatan menyusui yang salah. Posisi menyusu yang salah dapat menyebabkan ASI tidak keluar dengan baik sehingga bayi kekurangan cairan.
  • Masalah pada mulut atau tenggorokan. Jika bayi memiliki gigi yang baru tumbuh, sariawan, atau pilek, maka bayi dapat merasa tidak nyaman saat minum sehingga tidak mau minum banyak.
  • Udara panas. Kondisi cuaca yang panas dapat membuat bayi berkeringat lebih banyak. Apalagi jika bayi mengenakan pakaian tebal. Pastikan bayi minum cukup air dalam kondisi ini.

Cara Mencegah Dehidrasi pada Bayi

Ada baiknya Anda mencegah terjadinya kondisi ini daripada menunggunya terjadi dan baru mengatasinya. Berikut cara mencegah dehidrasi pada bayi:

  • Pastikan kebutuhan cairan harian bayi terpenuhi
  • Saat cuaca panas, beri bayi pakaian dan selimut yang tipis agar bayi tidak kepanasan
  • Jika bayi mengalami demam, diare atau muntah, pastikan asupan cairan bayi tetap lebih banyak dari cairan yang keluar.

Segera Tangani Dehidrasi Sedini Mungkin

Meskipun sudah mengikuti cara di atas, Anda tetap harus waspada. Terutama jika demam, diare, dan muntah yang dialami bayi tergolong parah. Segera kunjungi rumah sakit atau dokter untuk melakukan penanganan.

ER Indonesia menyediakan layanan ambulans khusus bayi berupa neonatal transport / NICU PICU ambulance. Ambulans kami dilengkapi dengan fasilitas perawatan intensif seperti inkubator, ventilator, obat-obatan dan tim medis yang sudah berpengalaman dan terlatih melakukan evakuasi medis darurat.

Dengan begitu, kondisi bayi tetap terjaga sepenuhnya selama proses perpindahan menuju fasilitas kesehatan yang memiliki ruangan NICU atau PICU sesuai dengan kebutuhan.

Kunjungi halaman layanan ER Indonesia untuk informasi berbagai layanan evakuasi medis darurat lebih lanjut.

Telah ditinjau oleh: dr. Rilie Armeilia, Sp.A
Terakhir diperbarui pada 27 September 2022

Artikel Lainnya