NICU PICU
|
24 Agustus 2025

Apa Itu Hidrosefalus? Gejala, Penyebab, hingga Penanganan

By ER Indonesia

Pengertian Hidrosefalus

Hidrosefalus adalah kondisi dimana cairan serebrospinal menumpuk di rongga otak hingga menyebabkan tekanan di otak menjadi meningkat. Penyakit ini dapat terjadi pada bayi baru lahir (neonatal), anak-anak, hingga orang dewasa.

Pada umumnya, otak akan memproduksi cairan yang berfungsi untuk melindungi otak, membuang sisa metabolisme, dan menjaga tekanan pada otak. Setelah diproduksi, cairan ini akan diserap oleh pembuluh darah.

Namun, jika tingkat produksinya terlalu tinggi dibandingkan dengan penyerapannya, maka hal ini akan mengakibatkan penumpukan di dalam rongga otak.

Gejala dan Ciri-ciri

Hidrosefalus dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia. Pada bayi baru lahir, gejala dan ciri-ciri yang akan ditunjukkan penderita hidrosefalus adalah sebagai berikut:

  • Ukuran lingkar kepala yang cepat membesar
  • Munculnya benjolan lunak pada ubun-ubun
  • Cenderung rewel dan mudah mengantuk
  • Tidak tertarik untuk menyusu
  • Muntah-muntah
  • Mengalami kejang
  • Pertumbuhan bayi terhambat.

Sedangkan pada anak-anak dan orang dewasa, hidrosefalus akan mengakibatkan munculnya gejala dan ciri-ciri berikut ini:

  • Ukuran kepala yang membesar
  • Sakit kepala yang hebat
  • Merasa mual dan muntah
  • Daya ingat dan konsentrasi menurun
  • Penglihatan jadi kabur
  • Mengalami gangguan keseimbangan dan koordinasi tubuh
  • Kesulitan dalam berjalan karena gangguan keseimbangan, sehingga badan membungkung dan kaki dibuka lebar ketika berjalan.
  • Kontrol kandung kemih yang terganggu

Hidrosefalus merupakan penyakit yang perlu ditangani sesegera mungkin. Jika tidak, maka penyakit ini dapat mengakibatkan efek jangka panjang baik pada bayi maupun orang dewasa.

Apa Bahaya Penyakit Hidrosefalus?

Penyakit ini dapat mengakibatkan efek jangka panjang, terutama jika terjadi pada bayi baru lahir atau anak-anak. Berikut efek jangka panjang yang dapat terjadi pada penderita hidrosefalus jika tidak segera ditangani:

  • Penglihatan terganggu
  • Kesulitan dalam belajar karena daya ingat dan konsentrasi yang menurun
  • Kemampuan berbicara bermasalah
  • Menderita epilepsi
  • Kesulitan dalam bergerak karena keseimbangan dan koordinasi tubuh terganggu.

Kapan Harus ke Rumah Sakit?

Segera bawa pasien ke rumah sakit jika merasakan gejala-gejala yang disebutkan di atas.

Untuk bayi, Anda perlu segera membawa bayi ke rumah sakit jika bayi menunjukkan ciri-ciri berikut:

  • Rewel dan menangis dengan suara melengking
  • Muntah-muntah tanpa penyebab yang jelas
  • Tidak tertarik untuk menyusu dan makan
  • Napas bayi terlihat sesak
  • Mengalami kejang
  • Bayi enggan menggerakkan kepala

Bayi memiliki daya tahan tubuh yang masih lemah, oleh karenanya bayi membutuhkan dukungan medis yang lebih intensif. Oleh karenanya, Anda dapat menggunakan neonatal transport atau ambulance NICU/PICU untuk membawa bayi dengan kondisi gawat darurat.

Segera hubungi ER Indonesia jika Anda membutuhkan evakuasi medis darurat atau panggil ambulans!

Neonatal Transport / Ambulance NICU PICU

Ambulans NICU PICU Neonatal Transport

Neonatal transport / ambulance NICU PICU adalah ambulans khusus bayi neonatal dan anak dengan kondisi gawat darurat medis. Ambulans ini dilengkapi dengan peralatan berstandar fasilitas NICU, seperti inkubator portable, ventilator, hingga obat-obatan.

Tim medis ER Indonesia memiliki keahlian dan pengalaman dalam melakukan evakuasi medis bayi neonatal yang membutuhkan perawatan intensif dengan standar tertinggi.

Apakah Hidrosefalus Bisa Sembuh?

Ya, hidrosefalus bisa disembuhkan namun perlu ditangani dengan tindakan operasi untuk mengembalikan kadar cairan di dalam otak ke kadar normalnya.

Ada dua jenis operasi yang dapat dilakukan untuk menangani hidrosefalus, yaitu:

Operasi Ventriculoperitoneal (VP) Shunt

VP Shunt merupakan prosedur paling umum dilakukan untuk mengatasi hidrosefalus karena tingkat keberhasilannya yang tinggi.

Prosedur ini dilakukan dengan cara memasang selang khusus ke dalam kepala dan ke dalam perut. Tujuannya adalah untuk mengalirkan cairan otak yang berlebih ke perut agar lebih mudah terserap ke dalam aliran darah.

Operasi ini umumnya berlangsung selama 1 – 2 jam, dengan proses pemulihan setelah operasi 3 – 4 hari. Biasanya pasien sudah diperbolehkan pulang dalam waktu 1 minggu. Selama itu, detak jantung dan tekanan darah pasien akan terus dipantau.

Untuk kondisi tertentu, selang shunt perlu dipasang seumur hidup. Dalam kondisi ini, pasien perlu menjalani pemeriksaan rutin untuk memastikan selang bekerja dengan baik.

Endoscopic third ventriculostomy (ETV)

Operasi lainnya untuk menangani hidrosefalus adalah dengan prosedur Endoscopic Third Ventriculostomy. ETV adalah prosedur operasi yang menggunakan endoskop ke dalam sistem ventrikel untuk membuat lubang di dasar ventrikel ketiga.

Dengan pembuatan lubang ini, cairan otak dapat mengalir keluar dari rongga otak. Umumnya prosedur ini dilakukan jika penyebab hidrosefalus adalah adanya penyumbatan pada otak.

Penyebab Hidrosefalus

Secara umum, penyakit ini disebabkan oleh cairan serebrospinal yang menumpuk di rongga otak, sehingga tekanan di dalam kepala meningkat. Beberapa penyebab yang bisa membuat hal ini terjadi adalah:

  • Adanya penyumbatan pada otak sehingga cairan serebrospinal tersumbat
  • Tingkat produksi cairan otak yang lebih tinggi dibanding penyerapannya
  • Terganggunya proses penyerapan cairan otak karena adanya penyakit atau cedera pada otak.

Selain hal-hal di atas, ada beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan risiko hidrosefalus.

Faktor risiko yang bisa terjadi pada bayi baru lahir atau neonatal adalah:

  • Ibu mengalami infeksi selama hamil. Hal ini dapat mengakibatkan peradangan otak bayi yang dikandung.
  • Kurangnya asupan nutrisi ibu saat hamil, terutama asupan asam folat
  • Adanya pendarahan otak karena bayi lahir kurang bulan (prematur)
  • Otak dan tulang belakang bayi yang tidak berkembang dengan normal sehingga menyumbat cairan otak (spina bifida)
  • Bayi mengidap kelainan bawaan, seperti sindrom Dandy-Walker, Stenosis akuaduktus sylvii, Kraniosinostosis, atau Hydranencephaly.

Sedangkan pada anak-anak atau orang dewasa, berikut faktor risiko dari penyakit ini:

  • Ada pendarahan di otak karena stroke atau cedera
  • Memiliki tumor pada otak atau saraf tulang belakang
  • Mengalami infeksi pada otak atau saraf tulang belakang (misalnya meningitis)

Tindakan Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Meskipun tidak mudah untuk dicegah, namun Ibu bisa melakukan hal berikut untuk mengurangi risiko hidrosefalus sebagai berikut:

  • Melakukan pemeriksaan kandungan secara rutin agar jika ada infeksi dapat segera terdeteksi dan ditangani
  • Menggunakan sabuk pengaman saat mengendarai mobil, atau helm saat mengendarai motor atau sepeda.
  • Pastikan ibu hamil dan anaknya mendapatkan imunisasi sesuai anjuran pemerintah agar terhindar dari infeksi virus yang dapat memicu hidrosefalus.

Segera Tangani dan Cegah Hidrosefalus Sesegera Mungkin

Hidrosefalus merupakan penyakit yang perlu ditangani dengan segera. Dalam kondisi yang parah, pasien memerlukan perawatan di ruang perawatan intensif (ICU/NICU/PICU). Meski demikian, tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas tersebut sesuai kebutuhan pasien.

ER Indonesia menyediakan layanan ambulans berupa ambulans NICU/PICU maupun ambulans biasa. Ambulans kami telah didukung dengan fasilitas perawatan intensif, seperti peralatan medis lengkap, obat-obatan serta tim medis berpengalaman dan terlatih dalam melakukan evakuasi medis darurat.

Dengan begitu, keadaan bayi tetap terjaga selama proses perpindahan menuju fasilitas kesehatan yang memiliki ruangan perawatan intensif sesuai dengan kebutuhan.

Kunjungi halaman layanan ER Indonesia untuk informasi berbagai layanan evakuasi medis darurat lebih lanjut.

Artikel Lainnya